Video game kini tidak lagi dipandang semata sebagai media hiburan. Di berbagai industri, game telah berkembang menjadi sarana pembelajaran, asesmen, hingga strategi meningkatkan keterlibatan pengguna. Topik inilah yang menjadi salah satu pembahasan dalam Clogs, Tulips and Video Games, sebuah rangkaian acara yang diselenggarakan Erasmus Huis untuk memperkenalkan inovasi industri game Belanda sekaligus mempertemukan pelaku industri game Indonesia dan Belanda.
Mewakili Agate, Junialdi Dwijaputra, Head of Level Up powered by Agate, hadir sebagai pembicara dalam sesi diskusi untuk membagikan bagaimana pendekatan game design dapat diterapkan di luar industri game, khususnya dalam pengembangan sumber daya manusia, pembelajaran, hingga proses asesmen perusahaan.
Melalui sesi bertajuk Trend & Case Study of Game-Based Learning & Assessment, Junialdi menjelaskan bagaimana prinsip desain game dapat membantu organisasi menciptakan pengalaman belajar yang lebih menarik sekaligus menghasilkan pengukuran kompetensi yang lebih akurat.
Dalam presentasinya, Junialdi menjelaskan bahwa terdapat perbedaan mendasar antara gamification, game-based learning, dan game-based assessment, meskipun ketiganya sama-sama memanfaatkan elemen permainan.
Gamification berfokus pada penambahan elemen permainan seperti poin, badge, dan leaderboard untuk meningkatkan motivasi dalam aktivitas yang sebenarnya bukan permainan. Sementara itu, game-based learning menggunakan game sebagai media utama untuk membangun kompetensi, sedangkan game-based assessment memanfaatkan gameplay untuk mengukur perilaku dan kemampuan seseorang secara lebih alami sehingga lebih sulit dimanipulasi dibandingkan metode asesmen konvensional.
Menurut Junialdi, ketiga pendekatan tersebut memiliki DNA yang sama. Mekanisme permainan bukan menjadi tujuan utama, melainkan alat untuk mencapai objective bisnis atau pembelajaran.
“Junialdi Dwijaputra, Head of Level Up powered by Agate, mempresentasikan tren dan studi kasus game-based learning serta assessment dalam acara Clogs, Tulips and Video Games di Erasmus Huis Jakarta.”
Salah satu poin yang disoroti adalah perubahan demografi dan perilaku masyarakat. Indonesia saat ini merupakan pasar game terbesar di Asia Tenggara, dengan mayoritas pengguna internet memainkan video game dan sebagian besar Gen Z berinteraksi dengan konten game bahkan di luar aktivitas bermain. Di sisi lain, berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa penerapan gamification dalam HR mampu meningkatkan engagement, retensi, serta efektivitas pelatihan, terutama bagi generasi Milenial dan Gen Z.
Hal ini membuat perusahaan perlu mulai memandang game bukan hanya sebagai media hiburan, tetapi juga sebagai media komunikasi, pembelajaran, dan pengembangan talenta.
Junialdi juga menambahkan bahwa pengalaman kandidat maupun karyawan selama proses learning dan assessment kini turut memengaruhi employer branding perusahaan. Pengalaman yang kurang baik dalam proses pembelajaran maupun seleksi dapat membentuk persepsi negatif terhadap organisasi.
Salah satu materi utama yang dibahas adalah bagaimana proses pengembangan game berperan sebagai penghubung antara kebutuhan bisnis dengan pengalaman bermain.
Menurut Junialdi, sebuah game edukasi yang baik tidak dimulai dari ide gameplay, melainkan dari tujuan bisnis yang ingin dicapai. Setelah objective ditentukan, setiap mekanisme permainan harus dirancang agar mampu mendukung tujuan tersebut secara langsung. Pendekatan inilah yang menjadi dasar Level Up Gamification Framework, framework yang dikembangkan Agate untuk menerjemahkan business objective menjadi mekanisme permainan yang relevan dan terukur.
Framework tersebut terdiri dari empat tahapan utama, yaitu menentukan tujuan bisnis, memahami target pengguna, merancang gameplay, serta memastikan kebutuhan teknis sebelum pengembangan dimulai.
Tidak hanya membahas teori, Junialdi juga memperlihatkan berbagai implementasi nyata yang telah dikembangkan oleh Level Up powered by Agate.
Salah satunya adalah Jago Money Quest, sebuah game edukasi finansial bersama Bank Jago yang dirancang untuk membantu mahasiswa memahami literasi keuangan melalui simulasi pengelolaan uang yang interaktif. Setiap keputusan pemain memengaruhi jalannya cerita sekaligus menjadi bagian dari proses pembelajaran mengenai kesehatan finansial.
Junialdi juga membagikan studi kasus Telkomsel Working Culture Assessment, sebuah game-based assessment yang berhasil melibatkan lebih dari 32.000 peserta dan memperoleh tingkat kepuasan tinggi dari kandidat. Berbeda dengan tes konvensional yang hanya mengandalkan jawaban peserta, pendekatan ini mengamati perilaku nyata pemain selama mengambil keputusan di dalam permainan sehingga memberikan gambaran kompetensi yang lebih objektif.
Contoh lainnya adalah Santos Jaya Abadi Managerial Assessment, yang menggunakan simulasi untuk memetakan kesiapan manajerial melalui berbagai keputusan yang diambil peserta dalam kondisi menyerupai situasi kerja sebenarnya. Pendekatan ini membantu perusahaan mengurangi bias sekaligus memperoleh gambaran kompetensi yang lebih komprehensif.
Selain itu, Junialdi turut memperkenalkan Next Chapter, solusi game-based assessment yang menggabungkan simulasi bisnis, asesmen kepribadian berbasis naratif, cognitive games, hingga neuroscience games ke dalam satu platform terintegrasi untuk kebutuhan rekrutmen skala besar.
Partisipasi Agate dalam Clogs, Tulips and Video Games menunjukkan bagaimana industri game Indonesia terus berkembang, tidak hanya menghasilkan produk hiburan, tetapi juga menghadirkan solusi berbasis game yang mampu menjawab tantangan di berbagai sektor.
Melalui Level Up powered by Agate, perusahaan menghadirkan berbagai solusi gamifikasi seperti game-based learning, game-based assessment, immersive training, hingga interactive brand engagement yang telah digunakan oleh perusahaan dari berbagai industri.
Keikutsertaan Junialdi Dwijaputra sebagai pembicara di Erasmus Huis sekaligus menjadi bukti bahwa inovasi game asal Indonesia mampu berkontribusi dalam diskusi internasional mengenai masa depan pembelajaran, asesmen, dan transformasi digital berbasis game.
Clogs, Tulips and Video Games adalah rangkaian acara yang diselenggarakan Erasmus Huis untuk memperkenalkan industri game Belanda sekaligus menjadi ruang diskusi antara pelaku industri game Indonesia dan Belanda.
Agate diwakili oleh Junialdi Dwijaputra, Head of Level Up powered by Agate, yang membawakan materi mengenai tren dan studi kasus game-based learning serta game-based assessment.
Level Up powered by Agate adalah unit bisnis Agate yang berfokus pada penerapan gamification, game-based learning, game-based assessment, interactive experience, dan solusi berbasis game untuk kebutuhan perusahaan, institusi pendidikan, hingga organisasi.
Game memungkinkan peserta belajar melalui pengalaman interaktif dan mengukur perilaku secara lebih natural dibandingkan metode konvensional. Pendekatan ini dapat meningkatkan engagement, efektivitas pembelajaran, sekaligus menghasilkan data yang lebih kaya untuk proses evaluasi.
Setiap organisasi memiliki tantangan yang berbeda, mulai dari employee training, recruitment, customer engagement, hingga activation campaign. Melalui Level Up powered by Agate, perusahaan dapat merancang solusi gamifikasi yang disesuaikan dengan objective bisnis sehingga setiap mekanisme permainan benar-benar mendukung hasil yang ingin dicapai.
Ubah interaksi pasif menjadi keterlibatan aktif yang emosional. Level Up Powered by Agate merancang solusi gamifikasi personal untuk setiap kebutuhan internal maupun eksternal perusahaan Anda, memastikan pesan brand tersampaikan dengan cara yang paling menyenangkan. Mari Diskusikan Ide Kreatif Anda Bersama Kami.
