Bayangkan proses rekrutmen di masa depan.
Kandidat masuk ke sebuah platform, memainkan beberapa game, menyelesaikan berbagai tantangan, lalu sistem menganalisis cara mereka mengambil keputusan, memecahkan masalah, dan merespons situasi tertentu.
Tidak ada wawancara panjang di tahap awal. Tidak ada tumpukan CV yang harus dibaca satu per satu.
Lalu muncul pertanyaan:
Kalau teknologi sudah bisa menilai kandidat, apakah HR masih dibutuhkan?
Jawabannya: justru semakin dibutuhkan.
Game-Based Assessment atau Game Based Assessment bukan diciptakan untuk menggantikan HR. Sebaliknya, pendekatan ini hadir untuk membantu HR mendapatkan data yang lebih kaya, relevan, dan terstruktur sebagai bahan pertimbangan dalam proses pengambilan keputusan.
CV dapat memberikan gambaran mengenai pengalaman, pendidikan, dan pencapaian kandidat. Namun, CV tidak selalu dapat menunjukkan bagaimana seseorang menghadapi masalah ketika berada dalam situasi tertentu.
Begitu pula dengan wawancara.
Wawancara dapat memberikan banyak insight, tetapi hasilnya tetap bergantung pada pertanyaan yang diberikan, konteks percakapan, dan bagaimana kandidat menyampaikan dirinya.
Padahal, kemampuan seperti problem solving, decision making, attention, dan cognitive flexibility sering kali baru terlihat ketika seseorang benar-benar dihadapkan pada sebuah tantangan.
Di sinilah Game-Based Assessment menawarkan pendekatan yang berbeda.
Proses wawancara konvensional yang berfokus pada diskusi tatap muka.
Mendengar istilah game-based assessment, orang mungkin membayangkan kandidat hanya diminta bermain game lalu mendapatkan skor.
Padahal, assessment berbasis game yang dirancang dengan tepat memiliki proses yang jauh lebih kompleks.
Game dapat digunakan sebagai medium untuk menghadirkan situasi dan tantangan tertentu. Dari interaksi tersebut, data mengenai respons dan performa kandidat dapat dikumpulkan dan dianalisis untuk memberikan insight terkait kemampuan yang ingin diukur.
Dengan demikian, game bukanlah tujuan akhirnya.
Game adalah medium untuk mendapatkan data.
Tidak.
Justru di sinilah pentingnya memahami posisi teknologi dalam proses rekrutmen.
Game Based Assessment dapat membantu mengumpulkan dan mengolah data, tetapi data bukanlah keputusan.
HR tetap memiliki peran penting dalam memahami kebutuhan organisasi, menentukan kompetensi yang relevan, membaca konteks kandidat, mempertimbangkan budaya perusahaan, hingga akhirnya mengambil keputusan.
Bayangkan Game Based Assessment sebagai sebuah tambahan “lapisan data” dalam proses recruitment.
Jika sebelumnya HR memiliki CV dan hasil interview, Game Based Assessment dapat memberikan perspektif tambahan mengenai bagaimana kandidat menunjukkan kemampuan tertentu ketika menghadapi tantangan yang dirancang secara terstruktur.
HR kemudian dapat melihat informasi tersebut secara lebih menyeluruh.
Bukan HR atau Game Based Assessment.
HR dengan data yang lebih kaya.
Pengalaman dan intuisi HR tetap penting.
Namun, semakin kompleks proses recruitment, semakin besar pula kebutuhan untuk memiliki data yang dapat membantu memperkuat pertimbangan tersebut.
Game Based Assessment dapat membantu memberikan data tambahan yang sebelumnya mungkin sulit diperoleh hanya melalui CV atau interview.
Misalnya, ketika dua kandidat memiliki pengalaman yang relatif serupa, HR dapat membutuhkan perspektif tambahan untuk memahami bagaimana keduanya menunjukkan kemampuan tertentu ketika menghadapi sebuah situasi.
Dengan data tambahan tersebut, HR memiliki lebih banyak informasi untuk dipertimbangkan sebelum mengambil keputusan.
Bukan berarti keputusan menjadi sepenuhnya otomatis.
Justru sebaliknya, HR mendapatkan lebih banyak bahan untuk membuat keputusan yang lebih informed.
Salah satu manfaat terbesar teknologi dalam recruitment bukan hanya menggantikan pekerjaan manual, tetapi mengurangi beban administratif sehingga HR dapat lebih fokus pada pekerjaan yang membutuhkan human judgment.
Dengan assessment yang terstruktur, proses pengumpulan data kandidat dapat dilakukan dengan lebih konsisten.
HR kemudian dapat menggunakan hasil assessment sebagai salah satu input untuk proses evaluasi lebih lanjut.
Hal ini memungkinkan HR mengalokasikan lebih banyak waktu untuk aktivitas yang membutuhkan kemampuan manusia, seperti berdiskusi dengan hiring manager, memahami kebutuhan tim, melakukan interview mendalam, dan membangun candidate experience.
Teknologi mengambil sebagian pekerjaan yang bersifat terstruktur.
HR tetap memegang kendali atas konteks dan keputusan.
Inilah salah satu pendekatan yang dibawa oleh Next Chapter, solusi Game-Based Assessment dari Level Up powered by Agate.
Next Chapter dirancang dengan menggabungkan pendekatan game dengan assessment untuk menciptakan pengalaman yang lebih engaging bagi kandidat sekaligus menghasilkan insight yang dapat membantu HR dalam proses evaluasi.
Di balik pengalaman tersebut terdapat proses yang tidak sekadar membuat sebuah game.
Setiap instrumen dikembangkan melalui empat fase, yaitu Theory, Items, Validation, dan Norming, dengan melibatkan psychometricians dan Anvesana Research Institute untuk memastikan assessment memiliki dasar pengukuran yang relevan.
Dengan pendekatan tersebut, game bukan sekadar membuat proses assessment terasa lebih menyenangkan.
Game menjadi medium untuk menghadirkan assessment yang lebih engaging, sementara data hasil assessment dapat menjadi tambahan perspektif bagi HR.
Contoh berbagai jenis Game-Based Assessment dalam Next Chapter GBA untuk mengukur kompetensi kandidat.
Bagi kandidat, proses assessment dapat terasa lebih interaktif dibandingkan pendekatan konvensional.
Bagi HR, hasilnya dapat menjadi tambahan informasi dalam melihat kandidat dari perspektif yang lebih luas.
Dan bagi perusahaan, pendekatan ini membuka peluang untuk membangun proses recruitment yang tidak hanya berfokus pada siapa kandidatnya, tetapi juga bagaimana mereka menunjukkan kemampuan ketika menghadapi berbagai tantangan.
Pada akhirnya, teknologi bukan tentang menghilangkan peran manusia.
Teknologi yang baik justru memberikan manusia informasi yang lebih baik untuk membuat keputusan yang lebih baik.
Manfaat Game-Based Assessment dalam meningkatkan efektivitas proses rekrutmen.
Tidak.
Kalau Game Based Assessment digunakan dengan tepat, justru sebaliknya.
Game Based Assessment membantu HR mengurangi pekerjaan yang dapat dibuat lebih terstruktur, mendapatkan data tambahan mengenai kandidat, dan memperkaya perspektif sebelum mengambil keputusan.
Karena recruitment yang baik tidak seharusnya hanya bertanya:
“Siapa kandidat yang terlihat paling cocok?”
Tetapi juga:
“Data apa yang kita butuhkan untuk benar-benar memahami kandidat tersebut?”
Game-Based Assessment bukan akhir dari peran HR.
Ini adalah salah satu tools yang dapat membantu HR melangkah ke chapter berikutnya.
Tidak. Game Based Assessment berfungsi sebagai alat pendukung yang membantu HR memperoleh data dan insight tambahan mengenai kandidat. Keputusan akhir tetap membutuhkan human judgment dan pemahaman terhadap konteks organisasi.
Game Based Assessment menggunakan game sebagai medium assessment. Game dirancang berdasarkan kompetensi atau konstruk tertentu yang ingin diukur, sehingga interaksi kandidat dapat menghasilkan data yang relevan untuk proses assessment.
Game Based Assessment dapat membantu memberikan perspektif tambahan mengenai kandidat yang mungkin tidak terlihat hanya dari CV atau interview, sekaligus membuat pengalaman assessment menjadi lebih engaging.
Sebaiknya tidak. Hasil Game Based Assessment dapat digunakan sebagai salah satu sumber informasi bersama CV, interview, pengalaman, dan faktor relevan lainnya. Pendekatan ini membantu HR membuat keputusan yang lebih menyeluruh.
Next Chapter dari Level Up powered by Agate menghadirkan Game-Based Assessment yang menggabungkan pengalaman berbasis game dengan pendekatan assessment yang terstruktur, sehingga HR mendapatkan data tambahan sekaligus memberikan pengalaman assessment yang lebih engaging bagi kandidat.
Game-Based Assessment bukan tentang menggantikan HR dengan teknologi. Ini tentang memberikan HR data yang lebih kaya untuk membuat keputusan yang lebih informed.
Kenali bagaimana Next Chapter dari Level Up powered by Agate dapat membantu perusahaan menciptakan pengalaman assessment yang lebih engaging sekaligus memberikan insight tambahan dalam proses talent evaluation.
Saatnya bukan menggantikan HR dengan teknologi, tetapi memperkuat HR dengan teknologi.




WhatsApp us